<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4857812641132766490</id><updated>2011-07-30T21:01:40.147+07:00</updated><category term='buku panduan budidaya pachypodium'/><category term='bedah buku Pachypodium di radio MAS FM'/><category term='Tanaman hias purba &quot;Pachypodium&quot;'/><title type='text'>Pachypodium Indonesia</title><subtitle type='html'>Forum Komunikasi Pecinta Pachypodium di Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4857812641132766490/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4857812641132766490.post-3177442274996585297</id><published>2010-01-13T13:00:00.004+07:00</published><updated>2010-09-02T14:46:49.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku panduan budidaya pachypodium'/><title type='text'>Telah Terbit Buku Panduan Budidaya Tanaman Hias Pachypodium</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792239171" rel="nofollow" target="_blank" title="Wisata Kuliner Kota Malang"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SLx8eL6fJYI/AAAAAAAAAEs/VkVmlOb_uIs/S1600-R/Buku_Pachypodium.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku: Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran : 17.5 x 23 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah halaman: 126 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang: Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga : Rp 64.000,- *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Harga dapat berubah sewaktu-waktu. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img src="http://i275.photobucket.com/albums/jj303/haryobagushandoko/penawaranterbaik.jpg" /&gt;  &lt;a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792239171" rel="nofollow" target="_blank" title="Buy"&gt;&lt;img src="http://i275.photobucket.com/albums/jj303/haryobagushandoko/order.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemesanan secara online, silakan &lt;a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792239171" style="font-weight: bold;" target="_blank"&gt;klik disini&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=IHEO4253&amp;amp;kat=3" style="font-weight: bold;" target="_blank"&gt;klik disini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, Anda harus mendaftar atau registrasi menjadi member terlebih dahulu sebelum berbelanja buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan &lt;a href="http://gramediashop.com" target="_blank" title="registrasi member"&gt;registrasi di sini&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.gramedia.com/registration.asp" target="_blank" title="registrasi member"&gt;registrasi di sini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i275.photobucket.com/albums/jj303/haryobagushandoko/layanancustomerservice.gif" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kesulitan melakukan pemesanan atau transaksi online, Anda dapat secara langsung memesan lewat telepon, dengan menghubungi customer service:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telp. +62 - (021) 97085624, (021) 5350377 atau (021) 53677834&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an. Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini. Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh.&lt;br /&gt;Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18. Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi. &lt;br /&gt;Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan. &lt;br /&gt;Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem. Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar. Tentu saja hal ini salah kaprah. &lt;br /&gt;Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium. Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan. Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru. Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium. &lt;br /&gt;Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika. Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois, dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika. &lt;br /&gt;Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos. Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium = kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya. &lt;br /&gt;Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif. Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite). &lt;br /&gt;Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik ? antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu). Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik. &lt;br /&gt;Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan. Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India). &lt;br /&gt;Setelah benua kuno Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah. Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah. Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang. Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar. &lt;br /&gt;Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang. Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia. Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana. Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi. Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu. Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia. &lt;br /&gt;Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia. Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika. Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar. Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii.&lt;br /&gt;Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii. Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika. &lt;br /&gt;Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen. Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus. Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah. &lt;br /&gt;Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi. Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air. Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias. &lt;br /&gt;Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga. Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain. Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792239171" rel="nofollow" target="_blank" title="Buy"&gt;&lt;img src="http://i275.photobucket.com/albums/jj303/haryobagushandoko/ikonBuyNow.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;   &lt;a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792239171" rel="nofollow" target="_blank" title="Beli"&gt;&lt;img src="http://i275.photobucket.com/albums/jj303/haryobagushandoko/ikonBeliSekarang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4857812641132766490-3177442274996585297?l=pachypodium-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/feeds/3177442274996585297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4857812641132766490&amp;postID=3177442274996585297' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4857812641132766490/posts/default/3177442274996585297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4857812641132766490/posts/default/3177442274996585297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/2010/01/telah-terbit-buku-panduan-budidaya.html' title='Telah Terbit Buku Panduan Budidaya Tanaman Hias Pachypodium'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SLx8eL6fJYI/AAAAAAAAAEs/VkVmlOb_uIs/s72-Rc/Buku_Pachypodium.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4857812641132766490.post-1887438652138907179</id><published>2008-08-17T21:10:00.004+07:00</published><updated>2010-02-12T07:38:36.523+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bedah buku Pachypodium di radio MAS FM'/><title type='text'>Acara Launching dan Bedah Buku Pachypodium di radio MAS FM, kota Malang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.haryobagushandoko.co.cc/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SKg0WaRiDCI/AAAAAAAAAEk/_iUSPPeb-7U/s400/BersamaPenyiarRadioMASFM.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235492126432824354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.haryobagushandoko.co.cc/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SKg0AsJ-B6I/AAAAAAAAAEc/x9VuHpddvOc/s400/BedahBukuPachypodiumdiRadioMASFM.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235491753275819938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rangka launching buku tanaman hias purba "Pachypodium" tulisan Haryo Bagus Handoko, penulis diundang oleh radio MAS FM di kota Malang, untuk bedah buku secara live. Bersama para pengurus Forum Penulis Kota Malang, acara bedah buku ini dilaksanakan secara beramai-ramai. Bincang santai pun mengalir lancar, dengan dibantu oleh penyiar radio MAS FM, sambil sesekali diselingi oleh alunan lagu. Acara bedah buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini disiarkan secara langsung di radio pada hari Sabtu, 16 Agustus 2008. Kesempatan yang diberikan ini tidak disia-siakan penulis untuk mempromosikan buku pertamanya, "Pachypodium".   Diharapkan di masa mendatang, tanaman yang hampir punah ini bisa menjadi komoditi unggulan di Indonesia dan dapat mendatangkan devisa yang tidak sedikit bila ditekuni secara serius sebagai komoditi tanaman hias yang berprospek bisnis bagus.  Mungkin belum banyak yang tahu bahwa tanaman ini tergolong tanaman purba yang semakin langka keberadaannya.&lt;br /&gt;Beruntunglah tanaman ini sempat dibudidayakan dan dikembangkan di Indonesia, karena konon kabarnya saat ini proteksi dan perlindungan terhadap tanaman langka ini semakin ketat dilakukan, khususnya di negara asalnya yaitu Madagaskar dan Afrika Selatan. Walau demikian, kita tidak perlu khawatir, karena pengembang dan pebisnis Pachypodium di negeri ini sudah mengambil ancang-ancang jauh-jauh hari, sehingga tidak kehabisan stok bibit maupun tanaman dewasa. Boleh dikata bisnis Pachypodium di Indonesia sudah tidak terlalu banyak bergantung pada suplier dari luar negeri, karena kita sudah bisa mengembangkan sendiri. Walau memang masih dibutuhkan usaha gigih untuk menjadikan Indonesia sebagai sentra perdagangan Pachypodium dunia. Siapa tahu di masa depan kelak, negeri ini justru bisa menjadi penghasil tanaman Pachypodium sebagai komoditi ekspor dengan nilai ekspor yang tidak sedikit. Kita tentu boleh berharap bukan?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4857812641132766490-1887438652138907179?l=pachypodium-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/feeds/1887438652138907179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4857812641132766490&amp;postID=1887438652138907179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4857812641132766490/posts/default/1887438652138907179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4857812641132766490/posts/default/1887438652138907179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/2008/08/acara-launching-dan-bedah-buku.html' title='Acara Launching dan Bedah Buku Pachypodium di radio MAS FM, kota Malang'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SKg0WaRiDCI/AAAAAAAAAEk/_iUSPPeb-7U/s72-c/BersamaPenyiarRadioMASFM.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4857812641132766490.post-3713657620868129591</id><published>2007-10-28T05:10:00.004+07:00</published><updated>2008-09-02T06:31:12.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanaman hias purba &quot;Pachypodium&quot;'/><title type='text'>Pachypodium di Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=IHEO4253&amp;amp;kat=3"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/RyO7F-6eLCI/AAAAAAAAAC0/z2jvyVdL2y0/s400/Pachypodium.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126146512339741730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;    Tanaman Pachypodium sebenarnya sudah dikenal sejak lebih dari seratus tahun lalu oleh para kolektor dan pecinta tanaman hias dunia.  Sisa tanaman purba yang berduri indah ini baru dikenal di Indonesia sekitar era tahun 90-an dan kembali marak digemari pada awal tahun 2007 hingga sekarang.  Dari 25 jenis spesies yang ada di dunia, baru beberapa yang dijumpai di Indonesia.&lt;br /&gt;Tanaman ini digemari karena keunikannya, dan juga karena berbagai variasi bentuk batang, daun maupun bunganya.  Bahkan ada pula jenis tanaman yang mengalami mutasi genetik sehingga tumbuh kristata atau pun varigata.  Jenis-jenis yang varigata maupun kristata semakin banyak digemari, dan semakin banyak yang penasaran tentang bagaimana cara menghasilkan jenis-jenis yang varigata atau pun kristata tersebut.  Di Indonesia, sentra penjualan dan budidaya Pachypodium sudah mulai banyak dijumpai, yaitu di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Gresik, Sidoarjo, dan Batu (Malang).  Bila ingin memperoleh jenis-jenis yang unik dan beragam, kini sudah banyak dijumpai di pasaran.  Pachypodium-pachypodium yang berukuran besar dan tinggi, atau pun yang kristata dan varigata sudah bisa diperoleh, terutama di daerah Batu (Malang), Gresik, dan Sidoarjo.  Harganya juga agak lebih miring dan murah bila dibanding dengan yang dijual di daerah lain.  Untuk memperoleh bibit Pachypodium, desa Sidomulyo (Batu), Sidoarjo dan Gresik adalah gudangnya.  Bibit tanaman yang masih muda (berumur 2 - 7 bulan) bisa diperoleh dengan harga antara Rp 50.000,- hingga Rp 150.000,-  .  Coba bandingkan dengan daerah lain yang berharga lebih mahal.  Untuk jenis Pachypodium yang berukuran besar (tinggi mencapai 1 - 3 meter), di Batu (Malang) bisa diperoleh dengan harga antara Rp 1.000.000,- hingga Rp 12.000.000 rupiah. Harga ini jauh lebih murah, karena masih bisa tawar menawar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Bagi yang penasaran mengenai bagaimana cara budidaya, merawat maupun menghasilkan jenis-jenis Pachypodium yang varigata dan kristata, sebuah buku mengenai tanaman Pachypodium yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama ini akan mengulas tuntas segala aspek mengenai tanaman purba nan unik ini.  Dengan dilengkapi berbagai informasi penting dan foto-foto cantik, buku ini tampil menguak misteri tanaman purba dari daerah gurun sahara Afrika.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pesona jutaan tahun kini dapat Anda nikmati saat ini pada tanaman Pachypodium.&lt;br /&gt; Sedang bagi pecinta Pachypodium yang ingin saling berbagi pengalaman, informasi, maupun sekedar cerita seputar budidaya dan bisnis tanaman hias Pachypodium, saat ini sudah tersedia forum yang bisa mewadahi hal tersebut. Melalui mailing list Pachypodium Indonesia yang linknya bisa diklik di halaman situs ini, Anda akan bisa saling berkomunikasi antar pecinta Pachypodium maupun pebisnis tanaman ini sekedar mengobati rasa penasaran.  &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;    Semoga tanaman Pachypodium bisa dikenal secara luas dan memperkaya khasanah keanekaragaman hayati tanaman hias di Indonesia.  Semoga . . .&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4857812641132766490-3713657620868129591?l=pachypodium-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/feeds/3713657620868129591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4857812641132766490&amp;postID=3713657620868129591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4857812641132766490/posts/default/3713657620868129591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4857812641132766490/posts/default/3713657620868129591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/2007/10/pachypodium-di-indonesia.html' title='Pachypodium di Indonesia'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/RyO7F-6eLCI/AAAAAAAAAC0/z2jvyVdL2y0/s72-c/Pachypodium.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
